Challenge travelling Tulisan

Kota kenangan, Dramaga-Bogor

Bogor, hampir 10 tahun saya tinggal di kota ini. Hampir 10 tahun saya menikmati hari-hari di kota Hujan ini. Tahun 2007 saya mulai tinggal di kota ini tepatnya di Dramaga, Bogor.  Saat itu saya baru lulus dari SMA dan melanjutkan kuliah di Institut Pertanian Bogor. Tidak pernah menyangka, akhirnya saya bisa kuliiah di luar Jakarta. Itu adalah salah satu impian saya untuk mencoba hidup mandiri. Dan saya pun tidak menyangka, bisa hampir 10 tahun nyaman berada di kota ini. Bahkan rasanya kota ini bikin kangen banget. Plus kangen kampus sangat.

Menyeselesaikan pendidikan S1 selama hampir 5 tahun di kota ini ternyata tidak membuat saya hapal dengan kota Bogor. Maklum masih belum punya uang sendiri dan masih ngandelin uang kiriman orang tua. Jadi, pergi jauhnya cuma ke kota. Ya, saya menganggap Dramaga adalah desa dan Baranangsiang adalah kota. Dulu rasanya saya cuma tahu daerah Baranangsiang plus mall-mallnya. Dari dulu juga Bogor sudah dikenal dengan sebutan kota sejuta angkot. Oleh karena itu, dari desa Dramaga menuju Baranangsiang pun kami hanya bisa menempuh dengan angkot. Belum ada ojek online pada saat itu. Durasi perjalanan dari Dramaga hingga kota bisa mencapai 45 menit sampai 1 jam. Belum ditambah ngetemnya angkot menunggu sampai penuh penumpangnya. Dulu biasanya kalau mau main ke kota kita haru berangkat sebelum sore kurang lebih jam 2 atau 3 sore. Kenapa? Karena kalau sudah masuk jam 3.30 sore maka jalan Dramaga akan macet banget belum lagi di tambah dengan bis pegawai IPB yang mengatar pegawai hingga kota.

Namun ternyata dengan kemacetan yang ada di Dramaga, tidak membuat saya kapok untuk kembali ke kota ini. Setelah bekerja hampir 6 bulan di Jakarta. Akhirnya,  tahun 2013 saya kembali tinggal di Dramaga untuk melanjutkan studi. Alhamdulillah saya mendapatkan beasiswa dan sambil bekerja kembali di Rektorat IPB . Mengapa saya pilih IPB lagi? Kenapa bukan UGM atau ITB? Karena saya sudah terlalu nyaman rasanya dengan suasana di kampus disamping faktor kemacetannya. Di tempat ini saya belajar bagaimana bekerja, mencari uang tambahan, belajar tentang kerasanya kehidupan, belajar tentang agama. Yup, saya belajar tentang agama di kota inni misalnya puasa sunah dan salat sunah. Saya merasa bersyukur sekali bertemu dengan orang-orang yang suka menasehati saya dan memberi tahu saya tentang pengetahuan agama, tentang keikhlasan, tanggung jawab, memaafkan,  bersyukur serta profesionalitas.

Selama menempuh S2 pun, banyak sekali perubahan yang terjadi di desa Dramaga ini. Semakin maju dan elit rasanya. Hahah. Makin banyak kompleks perumahan yang dibangun plus buat tambah macet. Namun, alhamdulillahnya muncul ojek online yang sangat mempermudah mahasiswa. Walaupun, masih tidak boleh masuk kampus karena akan dilawan oleh ojek pangkalan. Mulai ada supermarket Yogya,  Domino, dua rumah sakit besar dekat kampus, Richese. Banyak sekali fasilitas yang bermunculan sebelum saya meninggalkan kota ini pada Mei 2017. Kota ini terlalu banyak kenangan. Pada saat akan meninggalkannya pun rasanya berat dengan segala keadaan di kota ini. Bau tanahnya saat hujan, rindangnya pohon-pohon di kampus, jajanan sekitar kampus, donat Bateng paling murah, alat tulis paling murah di Gebyar bahkan saya merasa lebih lengkap di banding Gramedia, berlari di gymnasium di Jumat pagi. Saya kangen suasana itu.

Ini ceritaku, kalian sendiri kota mana yang paling kangenin?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *