Challenge Tulisan

Sosial Media, Bumerang atau Berkah?

Siapa yang hingga kini tidak punya akun sosial media? Saya rasa umumnya masyarakat kota terutama pasti memiliki akun sosial media minimal satu yaitu akun email atau facebook.  Bahkan orang tua sekalipun yang mungkin lahir di tahun 60an banyak yang memiliki akun sosial media. Tak dipungkiri perkembangan sosial media begitu sangat pesat. Saya sebagai anak 90an pun merasakan betapa massivenya perkembangan sosial media.

Saya sendiri baru mengenal dan memiliki akun sosial media pada saat di SMP.  Akun sosial media pertama saya adalah yahoo messenger dan MIRC. Jaman dulu saya sudah punya dua akun itu untuk  berkenalan dan chat sama orang lain yang ga dikenal. Dan anehnya, dulu kokk saya ga takut ya kalau bakal diapa2in sama kenalan itu. Kemudian di tahun 2003 atau 2004, saya mulai menambah akun sosial media saya ke friendster. Friendster cukup lama sekali bertahan di jamannya hingga  tahun 2008, saya rasa. Barulah di tahun 2008, perkembangan sosial media semakin cepat dimulai, saya pun mulai membuat akun sosial media bernama Facebook, Twitter , Blog, BBM, WA, Path, Pinterest, Linked In, Tumblr,  dan Instagram . Hahha. Hingga sekarang pun masih bermunculan berbagai jenis media sosial seperti ask.fm, telegram dan snapchat. Dan kebetulan saya tidak memilikinya karena kayak bukan jamannya saya aj. Hahaha. Dan ga banyak pula teman-teman saya yang punya akun tersebut.

Massivenya perkembangan teknologi dan media sosial di dunia internet memunculkan banyak keuntungan maupun kerugian. Saya pribadi pun merasakan efek dari bumerang dan berkah dari sosial media.  Media sosial membuat jarak seseorang dengan insan lainnya terasa dekat atau bahkan dari yang ga kenal jadi kenalan. Lebih mudah berkomunikasi melalui media sosial walau hanya sekedar bertanya kabar  atau bahkan kita pun terkadang tak perlu bertanya karena melalui media sosial, orang itu pun akan membagikan semua kegiatannya melalui akun media sosialnya. Dari fenomenan mudahnya membagikan segala momen itu dalam media sosial, sudah dapat menciptakan suatu lapangan kerja salah satunya adalah menjadi artis endorse dan penjual pun dapat meningkatkan pundi-pundinya dikarenakan memiliki banyak media yang dapat digunakan sebagai  media promosi. Terus efek bumerang apa? Seseorang yang selalu menshare segala kegiatannya atau memamerkan sesuatu yang mungkin sebenarnya tidak berniat pamer dapat menjadi sasaran kejahatan ataupun orang tersebut sudah tidak lagi memiliki privasinya. Kecuali orang tersebut memiliki dua akun private dan public. Bumerang lainnya, banyaknya orang-orang yang ingin sekali menjadi artis endorse or influencer demi meningkatkan ketenaran ataupun pundi-pundi. Ga salah c, cuma terkadang ada aja yang sampe minta-minnta untuk diendorse dan rasanya cukup mengganggu sang penjual.

Adanya media sosial memang membuat seseorang dapat bebas menulis atau mengeluarkan pedapatnya atau menuliskan apa yang ada dipikirannya. Apakah ada yang sukses setelah banyak menulis kata-kata atau cerita di media sosial? Banyak. Bahkan banyak yang dapat membuat buku akhirnya yang semulanya bermula dari blog atau munculnya blogger yang bijak dan baik sekali menyebarkan ilmunya. Namun apakah ada yang merasakan efek bumerangnya?  Banyak juga. Dari munculnya komen-komen negatif yang dari sindiran halus sampe yang kasarnya kebangetan bahkan mengandung SARA, kemudian munculnya aksi boikot ataupun masuknya ke dalam kasus pelanggaran IT.  Saya pun pernah melakukan itu, menulis karena emosi dengan sindiran halus sampe kasar tapi no mention gitu. And then, now i regret that. Tapi tanpa saya menjalani itu, mungkin saya ga akan belajar untuk lebih banyak berfikir panjang sebelum mengetik. Karena terkadang jari pun lebih cepat daripada logika. Dan oleh karena itu, kenapa saya mulai jarang untuk menuliskan sesuatu yang saya rasakan apalagi kalau lagi kesel, karena takutnya nanti nyesel lagi dan lebih mengalihkan emosi dengan melakukan hal lain seperti menyuci. Wkwkw . Dan yang pastinya saya jadi lebih mengerti bahwa sosial media pun ga boleh berlebihan candunya, karena yang berlebihan memang ga baik. Dan seperti postingan saya sebelumnya, mengapa saya menulis saya ingin tulisan saya bermanfaat dan pada saat mati tulisan itu masih bisa diingat oleh para pembacanya.

400total visits,1visits today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *