Tulisan

Etika Ber”Social Media”

Hampir 1 bulan saya tidak menulis dalam laman ini. Banyak ide atau inspirasi dalam otak, tapi memang ya ada aja distractionnya entah dari dalam diri ataupun faktor “X”. Tapi kemudian sedikit sadar, kalau menulis membantu saya untuk dapat memanage emosi saya. Tapi tidak semua tulisan yang mengandung emosi atau perasaan kita disaat itu juga dapat dengan mudahnya kita publikasikan. Karena bisa jadi perasaan itu hanya sesaat. Tetapi apabila kita menulis dengan topik yang berbeda dari perasaan kita saat itu, seperti hal yang kita senangi atau perasaan tersebut telah teratasi. Tulisan yang dihasilkan pun memiliki energi positif yang mampu membuat perasaan kita menjadi lebih stabil. Dan bisa jadi tulisan positif tersebut menularkan energinya kepada para pembaca.

Namun akhir-akhir ini, saya sedikit risih dengan berbagai tulisan ataupun comment pada social media yang sayangnya malah menularkan energi negatif. Tak ada yang salah memang dengan menuliskan apa yang dirasakan walau tidak baik juga bila sedang emosi ataupun mengcomment status semua orang tanpa pertimbangan dari banyak sudut pandang. Honestly, dulu saya seperti itu. Tapi entah karena kejadian apa, kini saya berfikir berulang kali untuk menulis apa yang saya rasakan, apalagi kalau social medianya tidak diprivate atau hanya kita pribadi saja yang bisa melihat status tersebut. Rasanya mungkin lega. Namun pasti ada efeknya, entah dari segi sang pembaca ataupun munculnya rasa penyesalan dari diri kita pribadi.

Disini saya hanya menyampaikan opini dan saran saja untuk para penulis ataupun pengcomment social media apapun itu. Dari segi penulis, menurut saya pribadi mungkin baiknya mereka berfikir dua kali untuk menulis, apalagi yang sifatnya curhatan. Tapi kalau kata-katanya bersifat membangun atau membuat para pembaca berfikir mungkin tak perlu fikir banyak. Saya pribadi, masih suka kok nulis yang sifatnya curhatan. Namun saya menulis hal tersebut di saat saya sudah selesai dengan masalah tersebut, di saat saya sudah ikhlas dengan hal tersebut. Karena menurut saya energi yang dirasakan saat membacapun akan berbeda dibanding pada saat kita menulis dalam posisi masih belum selesai dengan urusan perasaan, even kita menyangkal bahwa emosi kita baik2 saja pada saat kejadian. Misalkan pun sudah tidak tahan untuk menulis curhatan pun tidak masalah, karena setiap orang memiliki cara yang berbeda untuk menuangkannya.  Namun kita pun harus menjadi seseorang yang cuek dengan apa kata orang yang akan mencomment apa yang kita tuliskan, tidak perlu dimasukkan ke dalam hati, apalagi sampai membuat sakit hati dan jadi tambah stress pikiran. Bila ada comment yang bikin gatel banget pengen kita balas, supaya ga jadi rame mungkin dibalesnya pas kita sudah tenang. Selain itu, anggap aj kalau sie pengcomment ini tidak tahu keadaann kita yang sebenanrnya sehingga mereka berani menuliskan comment seperti itu.

Tidak hanya penulis saja yang perlu considerate dalam bertindak di social media. Pen”comment” pun harus bisa memikirkan apa yang harusnya ditulis , tidak asal ngomong saja dan kesannya malah seperti sok tahu dengan urusan orang tersebut  dan terkesan menghakimi serta tahu keadaan. Sebelum menulis, coba pastikan diri anda berada dalam keadaan si penulis. Apakah kata-kata yang akan anda tuliskan pantas untuk dituliskan di dalam media social. Apalagi kalau kata-katanya cukup kasar dan bagaimana efek dengan pembaca lainnya (terutama bila ada anak kecil). Secara diketahui, anak kecil ataupun remaja mudah sekali mengakses social media. Mungkin pen”comment” pun berfikir ribet amat sie, mw nulis aja kudu banyak mikir. Namun, apabila tidak ada pertimbangan sedikitpun, efeknya akan lebih runyam. Bukannya kasih solusi yang ada mungkin mencari musuh dan menambah masalah. Dan apabila yang akan di comment mengenai hal yang cukup pribadi, mungkin akan lebih baik anda memberikan solusi dengan cara yang lebih sopan dengan mengirim direct message. Saya rasa itu akan lebih tepat sasaran dan dengan kata-kata yang sopan juga.

Jujur yang buat saya risih pada saat social media adalah kata-kata kasar yang dikeluarkan, semudah itukah penulis menuliskan kata-kata kasar tersebut di media social. Terutama dengan munculnya fenomena atau akun “haters”. Terkadang kata-kata yang dikeluarkan cukup kasar menurut persepsi saya. Bagaimana nasib generasi muda apabila sering melihat dan mendengar langsung kata-kata kasar tersebut. Pergesaran norma pun terjadi. Dan hal hal yang tadinya bersifat tidak sopan menjadi sesuatu hal yang lumrah terjadi di kehidupan sehari-hari. Dan fenomena inilah yang saat ini sedang terjadi. Bagimana mudahnya anak SD berkata kasar dengan temannya walau kadang mereka bilang bahwa itu dalam keadaan bercanda, yang bisa jadi kata-kata itu tidak didapatkan di lingkungan keluarga tapi di lingkungan sekolah atau rumahnya.  Dan entah beberapa tahun kedepan, norma-norma kehidupan apa lagi yang akan tergerser bahkan menjadi punah. Mudah-mudahan ini bisa menjadi pelajaran bagi kita semua, bagi generasi yang akan melahirkan generasi berikutnya untuk menciptakan kembali norma-norma sopan santun dalam beretika namun tetap demokratis.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *